Jangan paksakan untuk mendaki jika jalur pendakian ditutup
Pada saat itu di bulan Februari tahun 2015, kira-kira kalau
saya tidak lupa tanggal 7 februari, saya dengan teman saya akan mendaki Gunung
Slamet. Padahal Gunung Slamet pada saat itu sedang ditutup, dan kira-kira sudah
tidak didaki selama 6 bulan. Tapi saya tetap memaksakan diri saya sendiri untuk
mendaki, memang ini perlakuan bodoh saya, tapi apa boleh buat, saya sudah
kebelet untuk benar-benar mendaki Slamet.
Sebenarnya sih bukan didaki selama 6-8 bulan, hanya saja ada
yang mendaki tapi sangat jarang. Siang hari saya tiba di basecamp Slamet jalur
Purbalingga. Gerimis mengundang, dan saya menanyakan kepada penjaga basecamp
bahwa apakah ada orang yang mendaki hari ini ? kata si penjaga bascecamp itu
ada, sebanyak tujuh orang. Hati ini agak lega, artinya saya tidak sendirian,
dan ada pendaki lain. Dan menurut bapak pejaga basecamp itu, kira-kira sudah
ada 45 menitan. Akhrinya saya habiskan segelas teh hangat saya, dan bergegas
untuk mendaki.
Untuk diketahui, saya hanya membawa teman saya saat mendaki
Gunung ini, dan itu pun pengalaman dia saat mendaki benar-benar minim. Tapi tak
apalah, karena saya rasa kerja sama tim lebih hebat daripada kerja sendiri.
Saat kami sudah melakukan perjalanan, dan kami di pos 1, ada
empat orang yang mendirikan tenda di dalam pos 1 gunung Slamet. Anehnya kok
hanya empat orang, bukannya tadi kata si penjaga basecamp itu ada tujuh orang. Akhirnya
saya tanyakan salah satu diantara mereka, setelah saya tanya, ternyata empat
orang ini beda rombongan dengan tiga orang lain. Dan tiga orang itu dari kampus
UPN Jogja.
Semangat saya, karena saya juga mahasiswa Jogja, saya pikir
akan dapat teman baru. Eh saat mendaki kami tidak menemukan mereka. Baru kali
ini juga saya mendaki kurang bisa menikmati perjalanan, karena tangan saya
hampir disibukan memotong
ranting-ranting yang menutup jalur pendakian. Ya wajar, selama 6 bulan tidak
pernah didaki.
Singkat cerita untuk pendakian gunung Slamet yang ini memang
tidak samapi puncak, hanya saja sampai pos 5. Karena pada saat itu tanggal 9
saya harus ke Jogja. Dan tanggal 8 saya harus turun Gunung. Pengalamat pait
kami kesasar entah sampai jalur mana, sampe saya cekcok dengan teman saya. Bahwa
kata teman saya ini jalur untuk turun, dan saya kekeh ini bukan jalur untuk
turun. Tidak ada bungkus permen dan bungkus apapun disekitar. Insting saya
jalan, ini bukanlah untuk menuju basecamp.
Akhirnya saya yakinkan teman saya untuk ikut dengan saya
untuk kembali ke atas lagi, agak kesel memang. Tapi saya tidak mungkin
meninggalkan teman saya sendirian. Tiba di tanah yang agak lapang, kami
beristirahat sebentar. Dan kami mulai mencari jalur sebenarnya untuk turun ke
basecamp. Akhirnya ketemu juga, dengan hati-hati kami menelusuri sepanjang
jalan. Dengan bermodal berani dan tenang, akhirnya keliatanlah bangunan dari
pos 1. Setibanya di pos 1 kami segera melepas kerir, dan memasak air panas
untuk membuat secangkir susu.
Jam 5 Sore hujan deras, sangat deras, tiba-tiba teman saya
memaksakan untuk turun, dengan tegas saya menolak. Tapi apa boleh buat, karena
teman saya sudah merasakan ketakutan di pos 1, ditambah aroma sesajen yang
menyelimuti isi dari pos 1. Saya memberanikan diri untuk turun juga, tapi
dengan catatan nunggu agak reda. Saat sudah agak reda, langsung kami turun untuk
menuju ke basecamp Slamet.
Di basecamp kami memesan teh hangat untuk anget-anget,
makan, dan hampir sejam kami disitu, lalu kami memutuskan untuk pulang ke rumah
kami. Kebetulan kami asli Pemalang, jadi tidak terlalu jauh dari Purbalingga.
5 hari kemudian
Saat saya sudah di Jogja, saya melihat salah satu acara tv
swasta, di acara tersebut menayangkan 3 Pendaki Gunung dari kampus UPN kesasar di Gunung Slamet. Sontak saya langsung
kaget, karena tanggal dan tempat gunungnya sama. Saya langsung berpikir, ini
mungkin tiga orang kemarin saat saya dengan teman saya mendaki di Gunung
Slamet.
Setelah saya browsing di internet untuk mencari kebenaran,
ternyata betul, ini mahasiswa UPN yang kemarin disebutkan oleh penjaga basecamp
Gunung Slamet. Dengan rasa syukurnya, saya masih bisa slamet sesuai dengan Nama
Gunungnya, Gunung Slamet.
Atas fenomena tersebut saya tidak akan lagi untuk mendaki
dengan kondisi Gunung tidak pernah didaki, apalagi selama 6 bulan. Kalau boleh
tau, saat saya mendaki Gunung Slamet sedang siaga 2. Untuk itu jangan tiru
perlakuan bodoh saya ini, karena sangat membahayakan, pertimbangin dulu sebelum
agan ingin mendaki. Dari kondisi Gunung dan kondisi agan sendiri.


No comments: